Kota Serang, Banten – Sampah kembali menjadi sorotan utama di Kota Serang. Permasalahan yang tak kunjung usai ini masih belum teratasi secara maksimal oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Serang.
Dari 6 kecamatan di Kota Serang, yaitu Taktakan, Curug, Cipocok Jaya, Walantaka, Serang, dan Kasemen, sampah liar masih terlihat menumpuk, terutama di Kecamatan Kasemen dan Serang. Salah satu contohnya adalah di saluran pembuangan air Pasar Induk Rau yang kini menjadi penampungan sampah.
Saluran tersebut tertutup dan dijadikan lapak untuk jualan kaki lima, sehingga sampah menumpuk dan menghambat aliran air. Hal ini dikhawatirkan akan menyebabkan banjir di area pemukiman warga, terutama di musim penghujan saat ini.
Aminudin, aktivis dari Koalisi MAPPAK Banten, mendesak DLH Kota Serang untuk segera mengangkat sampah tersebut. Ia juga meminta Walikota Serang untuk lebih serius dalam menangani permasalahan sampah di Kota Serang.
“Penanganan sampah di 6 kecamatan masih kurang maksimal. Sampah liar terus menjadi perbincangan masyarakat,” ungkap Aminudin.
Padahal, retribusi sampah di Kota Serang cukup lumayan menghasilkan pendapatan. Retribusi tersebut berasal dari perumahan, mall, restoran, pasar, pedagang kaki lima, perkantoran, dan wisata.
Pewarta (Indry)
