banner 728x250

Menyibak Tabir Sejarah di Goa Tutugan Gunung Tujuh: Perjalanan Spiritual Bersama Ki Panji Hurip

banner 120x600
banner 468x60

CILOGRANG LEBAK selarasonline com

Di tengah rimbunnya vegetasi Desa Cijengkol, Kecamatan Cilograng, Kabupaten Lebak, tersimpan sebuah jejak bisu peradaban masa lalu yang dikenal sebagai Goa Tutugan Gunung Tujuh Cilubang. Baru-baru ini, sebuah perjalanan tapak tilas dilakukan untuk menggali kembali nilai sejarah dan budaya yang terkubur di situs keramat tersebut.

banner 325x300

Perjalanan ini dipimpin langsung oleh tokoh kasepuhan Cilograng, Ki Abu Pangestu, atau yang lebih akrab disapa Ki Panji Hurip. Beliau dikenal sebagai sosok yang konsisten dalam melestarikan adat istiadat serta menjaga marwah budaya Sunda di wilayah Banten Selatan.

Pintu Gerbang Menuju Cisurupan tembus ke goa wayang
Sepanjang perjalanan menuju lokasi, Ki Panji Hurip membagikan kisah mengenai asal-muasal Goa Tutupan. Menurut penuturannya, dinamakan “Goa Tutupan” karena secara filosofis dan fisik, tempat ini dianggap sebagai ruang penyimpanan rahasia serta tempat perlindungan para leluhur di masa silam.

“Gunung Tujuh Cilubang bukan sekadar bentang alam. Ini adalah wilayah penyangga yang memiliki tujuh puncak, di mana setiap puncaknya memiliki karakteristik mistis dan historis tersendiri,” ujar Ki Panji Hurip di sela-sela pendakian.

Sejarah dan Jejak Leluhur
Berdasarkan sejarah lisan yang dijaga turun-temurun, Goa Tutugan merupakan tempat persinggahan para tokoh penting dari trah Pajajaran dan para wali yang menyebarkan kearifan di tanah Pasundan. Goa ini konon digunakan sebagai tempat manunggal atau berkhalwat (menyendiri) untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Sejarah mencatat bahwa wilayah Cilograng merupakan jalur perlintasan strategis bagi para leluhur yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan pesisir selatan. Goa Tutugan menjadi saksi bisu bagaimana para pendahulu mengatur strategi kehidupan dan menjaga keseimbangan alam.

Melestarikan Budaya Sunda
Ki Panji Hurip menekankan bahwa menjaga Goa Tutupan bukan hanya soal menjaga fisiknya, melainkan menjaga nilai-nilai budaya Sunda yang terkandung di dalamnya. Budaya ngajaga lembur (menjaga kampung halaman) dan ngaraksa alam (merawat alam) adalah inti dari pesan yang ingin disampaikan.

“Budaya Sunda adalah jati diri kita. Melalui tapak tilas ini, kita diingatkan untuk tidak lupa pada akar sejarah. Jika alamnya rusak, maka hilanglah sebagian dari sejarah kita,” tegas Ki Panji.

Kegiatan ini diharapkan dapat memicu kesadaran masyarakat luas, terutama generasi muda di Kabupaten Lebak, untuk lebih peduli terhadap situs-situs bersejarah. Goa Tutugan Gunung Tujuh Cilubang kini berdiri sebagai pengingat bahwa di balik kesunyian dinding batunya, terdapat kejayaan masa lalu yang harus terus diwariskan kepada masyarakat yang tentunya bisa menjaga kelestarian sejarah dan budaya

Red Abah anom

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *