LEBAK selarasonline com Di tengah derasnya arus modernisasi, semangat untuk merawat akar budaya leluhur tetap membara di ujung barat Pulau Jawa. Abu pangestu, seorang penggiat budaya asal Kampung Cijengkol, Desa Cijengkol, Kecamatan Cilograng, Kabupaten Lebak, terus konsisten menyuarakan pentingnya melestarikan jati diri suku Sunda. Dalam bincang hangat bersama awak media Selarasonline.com di kediamannya, Abu Pangestu . menekankan bahwa masyarakat Sunda tidak boleh sekali-kali melupakan sejarahnya (Jasmerah). Baginya, tanah Pasundan bukan sekadar tempat tinggal, melainkan warisan peradaban yang kaya akan nilai etika dan estetika. Melampaui Citra “Jawara” Banten selama ini memang identik dengan ketangguhan para “Jawara”. Namun, Abu Pangestu, memilih jalan untuk menonjolkan sisi kelembutan dan keindahan seni sebagai wajah lain dari keteguhan masyarakat Banten. Melalui berbagai kesenian khas seperti Tari Jaipong yang dinamis hingga seni bela diri Pencak Silat yang penuh filosofi, ia merangkul generasi muda untuk kembali mencintai budaya sendiri. ”Banten dikenal dengan Jawara-nya, tapi kita juga punya seni dan budaya yang luhur. Jangan sampai kita kehilangan jati diri di tanah sendiri. Lestarikan budaya Sunda di tanah Pasundan agar tetap hidup,” pesan Abu Pangestu, dengan penuh penekanan. Sekilas Sejarah Sunda: Cahaya dari Barat Melestarikan budaya tak lepas dari memahami sejarahnya. Suku Sunda merupakan salah satu kelompok etnis tertua di Nusantara. Jejak peradabannya dapat ditarik hingga masa Kerajaan Tarumanegara (abad ke-4 hingga ke-7) yang berpusat di wilayah Jawa Barat dan Banten saat ini. Tarumanegara, muncul Kerajaan Sunda (yang sering disebut sebagai Kerajaan Pajajaran dalam tradisi lisan). Sejarah mencatat masa keemasan di bawah pimpinan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi. Pada masa ini, filosofi Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh (saling mempertajam pikiran, saling mengasihi, dan saling membimbing) menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat. Banten sendiri merupakan bagian integral dari sejarah Pasundan. Sebelum menjadi kesultanan Islam yang besar, Banten adalah pelabuhan strategis milik Kerajaan Sunda. Dialek dan tradisi yang ada di Lebak saat ini adalah bukti nyata bahwa keterikatan historis dengan leluhur Sunda masih sangat kental. Menjaga Warisan untuk Masa Depan Upaya yang dilakukan Abu di Cijengkol merupakan pengingat bagi kita semua bahwa budaya adalah benteng terakhir sebuah bangsa. Dengan menghidupkan kembali langkah-langkah Jaipong dan jurus-jurus Silat, Abu Pangestu . berharap nilai-nilai kesantunan (handap asor.sili asah sili asih sili asuh ) dan keberanian khas Sunda tetap terjaga. ”Budaya adalah identitas. Tanpa budaya, kita bagaikan pohon yang kehilangan akarnya,” pungkasnya. Abah anom
Abu Pangestu , Cijengkol: Menjaga Nyala Api Budaya Sunda di Tanah Jawara

Rekomendasi untuk kamu

*Kabupaten Sukabumi, Selarasonlien.com, – Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi Fraksi PPP Dapil II, Hj. Zakiyah Rahmah…

CILEGON,-Selarasonline.com – 3 Juni 2026 Dalam rangka menyambut Milad ke-15 Organisasi Kemasyarakatan Kesatuan Komando Pembela Merah…

*Kabupaten Sukabumi SELARASONLINE.COM* Karang Taruna Binangkit Desa Walangsari, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi menggelar kegiatan penanaman…

SUKABUMI, SelarasOnline.com – Bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada Senin, 1 Juni…

Sukabumi, Selarasonline.com – Berdasarkan hasil evaluasi internal yang dilakukan secara menyeluruh dan resmi oleh jajaran…










